Istiqomah dan Tren Hijrah
Istiqomah (استقامة) berasal dari kata _ta-qo_ (تق/اتق) arti di antaranya adalah kewaspadaan dan kehati-hatian. Istiqomah, yang dalam surat al fatihah dalam diksi _mustaqima_ (مستقيم), bukan cuma diartikan sebagai jalan yang lurus, tetapi juga bisa sebagai stabilitas dan kontinuitas / keberlangsungan terus menerus. Maka, ketika turun surat Al Ahqaf : 13, banyak sahabat yang protes. Bagaimana mungkin kami yang manusia biasa bisa istiqomah tanpa berbuat dosa?
Al-Ahqaf ayat 13
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati.
Lalu rasulullah berkata, "Istiqomah disini adalah kalian tidak kembali ke keyakinan dahulu,"
Jadi, bukan tentang dosa-dosa muamalah yang pasti kita tak bisa mengelak itu. Melainkan berubahnya stabilitas iman dan kembali ke keyakinan sebelumnya. Kemudian, dengan diksi _mustaqima_ (مستقام), itu berarti keberlangsungan mengikuti para pendahulu yang stabil dan tertuntun dalam petunjuk. Siapa mereka? Para nabi, rasul, dan wali-wali Allah yang seperti ayat di atas, *tidak ada kesedihan dan kekhawatiran (terhadap dunia) dalam dirinya*.
Tapi mengapa ketika kita berbuat dosa seakan begitu buruk di hadapan Tuhan? Itu adalah naluri qodrati, bahwa jiwa kita berasal dari _sesuatu_ yang suci. Sebaliknya, jika kekotoran itu terus menerus, 'istiqomah', maka _frame_ buruk itu lambat laun hilang. Kita terbiasa dengan pelanggaran-pelanggaran hukum secara spiritual. Mungkin itu yang dialami saudara-saudara kita yang _baru tahu_ tentang hukum-hukum agama. Dan itu wajar, menganggap ketidakistiqomahan / perbuatan dosa itu buruk, dan orangnya layak dibenci. Sangat wajar. Sebab, kata Umar bin Khottob, pertama belajar kita akan mudah kaget, bangga diri, bahkan sombong. Lalu bertransformasi ke pemahaman, semakin cerdas, makin bijak menyikapi kesalahan diri dan orang lain. Dan fase terakhir adalah fase _fana_ , kekosongan, ketidaktahuan, bahwa kita sebenarnya tidak tahu apa-apa (kebenaran yang sesungguhnya).
Tren hijrah menjadi pilihan ketika kita ingin belajar serius tentang agama. Diksi _serius_ disini, seakan orang yang berpenampilan biasa saja, ucapannya tidak selalu diiringi dzikir, tidak nampak dekat dengan (bangunan) masjid, sudah pasti bukan orang yang istiqomah. Sekali lagi, ini wajar, jika melihat fase transformasi pemahaman diri dari Umar bin Khottob tadi. Di sisi lain, sebenarnya sudah tidak ada istilah 'hijrah' yang berkaitan dengan pengusiran / pindah tempat. Tapi yang masih selalu ada yaitu hijrah niat. Seperti hadits populer yang dirangkum dalam *Arba'in Nawawi*.
_Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya. Siapa yang hijrah karena harta, ia akan bertemu. Siapa yang hijrah karena wanita / pria, ia akan bertemu. Dan siapa yang mengharapkan Allah dan rasul-Nya, mereka akan bertemu_ .
Secara singkat haditsnya begitu. Bahwa tren hijrah yang terjadi di masyarakat juga ujung-ujungnya pada niat-niat di atas. Sebaliknya, justru mereka yang istiqomah hijrah, akan _bermetamorfosis_ dari yang tadinya *legalis* : penampilan, ucapan, circle pergaulan sesama mereka, akan berubah menyesuaikan lingkungan setempat tanpa melanggar syariat. Seperti tiga tingkatan iman orang-orang yang beribadah. Awalnya mereka takut dosa, takut neraka, takut azab. Lalu mereka berbaik sangka pada Tuhan, berharap banyak pahala, hidup berkah, berharap rezeki melimpah. Tapi di akhirnya, dia sampai pada لخوفون عليهم و لهم يحزنون, _La khowfun alaihim wa lahum yahzanun_ .Hatinya mantap, stabil pada Tuhan, mau dapat pahala atau banyak dosa, mau dilemparkan ke neraka atau surga, mau banyak rezeki atau diazab, dia tak peduli lagi. Satu-satunya fokus dan yang dipedulikan adalah, bahwa و هو معكم اين ما كنتم. Dia (Allah) selalu bersamanya dimanapun ia berada. Kedekatan dengan Tuhan menjadi candu untuk selalu berbuat baik, dan menjadikan bumi sebagai _masjidnya_ (tempat sujud) dimanapun ia berada. Sebab, _Sujud_ (taat) tak harus ke masjid (bangunan). Melainkan dimanapun kita berada. Kalau mampu. Bagaimana kalau tidak mampu? Itulah beratnya istiqomah mengikuti para nabi. Maka, semampunya saja. Dan Tuhan memahami, memaklumi kita.
ذهب ظمء و بتلتل ءرق و ثبتل اجر انشا الله
Senin, 27 Maret, 5 Ramadan 2023
