‎Hidup memang demikian

Java Tivi
0



Hidup memang demikian

Seseorang bisa saja nampak tenang dan gembira

Meski sebenarnya,

Ia hanya lebih mampu menyembunyikan

Kebabakbeluran hidupnya di hadapan dunia


‎Tiap hari,
‎Tiap orang,
‎Dikepung persoalan banyak hal
‎Kebutuhan,
‎Harapan,
‎Keinginan-keinginan terdekat,
‎Bahkan tak jarang kita dilempar
‎Masalah orang lain tiba-tiba

‎Seakan kita ditendang dari belakang
‎Saat hendak kencing di pinggir sungai
‎Lalu energi untuk marah pun hilang
‎Terpakai untuk menepi dan bangkit kembali

‎Sedih benar nampaknya hidupmu itu
‎Kemana Tuhanmu yang tiap saat kau sembah?
‎Kemana para malaikat-Nya,
‎Yang katanya selalu mengawasi kita?
‎Doa dan amal yang kau lakukan itu
‎Nampaknya tak mampu membuat,
‎Bahkan satu malaikat pun merasa iba

‎Kemana kau akan lari?
‎Pemimpinmu yang mana,
‎Yang akan menanggung beban berat
‎Di punggungmu itu?
‎Hidupmu saat ini di dunia
‎Mengapa kau berharap balasannya nanti
‎Di surga?
‎Apakah pemilik toilet terminal itu mengizinkan,
‎Kita membayar bekas kencing kita
‎Setelah sampai di rumah nanti?

‎Sampai kapan kita tak paham
‎Bahwa hubungan kita dengan Tuhan,
‎Bukan tentang jual beli amalan
‎Bukan transaksi antara ibadah dan imbalan
‎Tuhan tak butuh ibadahmu itu,
‎Dan manusia tak akan mampu membeli rahmat-Nya

‎Anjing di kebun itu kakinya pincang
‎Tapi tiap malam ia mencari makan
‎Sendirian,
‎Tanpa mengeluh,
‎Tak pernah menyalahkan Tuhan
‎Sedang ia hanya seekor anjing pincang,
‎Yang bahkan jika ia mati,
‎Tak akan ada seorangpun yang kehilangan

Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)