Hidup memang demikian
Seseorang bisa saja nampak tenang dan gembira
Meski sebenarnya,
Ia hanya lebih mampu menyembunyikan
Kebabakbeluran hidupnya di hadapan dunia
Tiap hari,
Tiap orang,
Dikepung persoalan banyak hal
Kebutuhan,
Harapan,
Keinginan-keinginan terdekat,
Bahkan tak jarang kita dilempar
Masalah orang lain tiba-tiba
Seakan kita ditendang dari belakang
Saat hendak kencing di pinggir sungai
Lalu energi untuk marah pun hilang
Terpakai untuk menepi dan bangkit kembali
Sedih benar nampaknya hidupmu itu
Kemana Tuhanmu yang tiap saat kau sembah?
Kemana para malaikat-Nya,
Yang katanya selalu mengawasi kita?
Doa dan amal yang kau lakukan itu
Nampaknya tak mampu membuat,
Bahkan satu malaikat pun merasa iba
Kemana kau akan lari?
Pemimpinmu yang mana,
Yang akan menanggung beban berat
Di punggungmu itu?
Hidupmu saat ini di dunia
Mengapa kau berharap balasannya nanti
Di surga?
Apakah pemilik toilet terminal itu mengizinkan,
Kita membayar bekas kencing kita
Setelah sampai di rumah nanti?
Sampai kapan kita tak paham
Bahwa hubungan kita dengan Tuhan,
Bukan tentang jual beli amalan
Bukan transaksi antara ibadah dan imbalan
Tuhan tak butuh ibadahmu itu,
Dan manusia tak akan mampu membeli rahmat-Nya
Anjing di kebun itu kakinya pincang
Tapi tiap malam ia mencari makan
Sendirian,
Tanpa mengeluh,
Tak pernah menyalahkan Tuhan
Sedang ia hanya seekor anjing pincang,
Yang bahkan jika ia mati,
Tak akan ada seorangpun yang kehilangan
