‎Agent from Above

Java Tivi
0



At-Taubah ayat 128


‎لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

‎Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

‎Judul tulisan ini dari judul film cina, seorang yang jadi agen dewa untuk menangkal agen-agen iblis di dunia. Agak jauh sebenarnya dengan "pola" yang akan diceritakan dalam kisah si Jon ini.

‎Lama sekali ia tak berjumpa dengan gurunya. Tentu kita tidak sedang membahas guru si Jon dari dunia fisik ini. Gurunya dari "domain" lain, seorang hamba Allah yabg dikasihi, yang mendapatkan akses untuk mengunjungi si Jon kapan saja.

‎Sore itu si Jon sedang plonga-plongo, sebab laptopnya sedang dipinjam kakaknya untuk suatu urusan di sekolahnya. Ia sedang jenuh membaca buku, jadi ia menikmati duduk melamun di pinggir rumah sambil mengopi. Lalu gurunya datang entah dari mana.

‎"Apa kau tak menyadari, Jon?" tanya sang guru tanpa basa basi. Saat gurunya berkata itu, secara bersamaan terngiang di kepala si Jon ayat quran di awal tulisan ini, surat Taubah ayat 128.

‎"Sadar gimana, Bib?" tanya si Jon sembari masih melamun. Dia sebenarnya sudah tidak peduli dengan tafsiran apapun tentang dunia dan akhirat.

‎"Orang-orang yang datang kepadamu, pelan tapi pasti, Allah ringankan beban hidup di pundaknya," kata gurunya lagi.

‎Si Jon mendengarkan.

‎"Bukankah itu membahagiakan?" lanjut ucap sang guru.

‎Si Jon menengok, menatap wajah gurunya, "Ah, bahagia... Aku mulai kehilangan arti tentang itu,"

‎"Bukankah saat kau pulang melayani masyarakat, ada kebahagiaan yang tak bisa kau jelaskan mengapa?" kata gurunya bertanya retoris. "Itu adalah senyum sang nabi dan Tuhan kita, yang resonansinya menyentuh jiwamu,"

‎Si Jon masih mendengarkan sambil melamun. Rokoknya menempel di bibirnya.

‎"Bukankah lebih penting kebahagiaan nabi kita apa yang memang Tuhan kehendaki, Jon?" kata sang guru lagi. "Seperti apapun sulitnya, bagaimanapun kau tak dihargai, betapapun kau tak mendapat apa-apa, tindakan mulia harus tetap dikerjakan meski pelakunya diabaikan banyak orang,"

‎Kalimat terakhir gurunya itu terdengar menusuk ke dalam hati. Ia lalu teringat lagi dengan kata-kata beliau saat dulu masih SMA, ketika diskusi di malam-malam hari.

‎Orang besar, bertindak besar, diuji berat.
‎Orang kecil, bertindak remah. diuji hal-hal sepele.
‎Orang kecil, tak mau bertindak besar, akan terus menerus kerdil.

‎Kau, akan pilih mana, Jon?

‎KAmis, 16 April 2026

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)