Dalam banyak ayat, dijelaskan bahwa rahmat Allah lebih baik daripada dunia ini. Lebih jelasnya bagaimana itu?
Rahmat Allah sebagai potensi, ibarat samudera. Dan ketika rahmat itu mewujud - dari potensi menjadi materi, ibarat samudera mewujudkan ikan, mutiara, minyak bumi dan lain-lain. Itu rahmat yang berwujud materi, nampak, dapat berkurang atau bertambah. Rahmat yang mewujud kedua bernama "mahfudz", keterjagaan atau keseimbangan. Dalam pengibaratan samudera itu, Mahfudz adalah samudera tanpa ombak besar (badai), yang menjadikan nelayan-nelayan dapat melaut dan mengambil rahmat dalam wujud materi (ikan dan lain-lain tadi).
Jika ditarik dalam kehidupan sehari-hari, ada dua wujud rahmat Allah : materi (uang, jabatan, popularitas, dan semacamnya), dan mahfudz yaitu keterjagaan keluarga, lingkungan, masyarakat, bahkan teman yang jaraknya jauh dari kita. Keterjagaan maksudnya dijaga oleh Allah dari musibah, sakit, ujian berat, kesialan, dan semacamnya.
Dalam rumusan saya, kita yang wujud rahmatnya masih kecil, dan kebermanfaatan untuk orang lainnya masih sempit, itu karena (katakanlah) iman kita memang rendah. Jika diibaratkan nominal, iman kita masih 50 poin, 25 poin untuk rahmat yang mewujud materi (uang dan lain-lain), dan 25 poin lagi untuk keterjagaan. Bisa jadi, poin rahmat materi kita justru hanya 15, tapi keterjagaannya (Mahfudz) sampai 35 poin. Begitupun sebaliknya ; banyak uang, tapi tak punya penjagaan pada lingkungan. Sebab, bisa jadi, kelebihan rahmat yang diberikan pada kita, itu sebenarnya rahmat untuk mereka yang kelaparan, sakit, kena musibah, dan semacamnya. Maka dalam Islam memang banyak konsep untuk berbagi : zakat, sedekah, infaq, waqaf, hadiah, hibah, dll. Sebagai tanda bahwa kelebihan rahmat kita dalam bentuk materi, sebenarnya cara Allah ingin menjadikan kita meluaskan mahfudz (penjagaan) kita pada banyak orang.
Lalu, bagaimana agar rahmat dalam wujud materi dan mahfudz terus meluas? Tidak terbagi meski proporsinya adil. (contoh 15-35 tadi).
Dalam rumusan saya - ini bisa salah lho ya, tambahkan durasi ketidakberdayaan (al faqr) di hadapan Tuhan. Paradoksnya, kesadaran al faqr tidak bisa direkayasa, tidak bisa dipaksa, tidak bisa pura-pura. Kesadaran al faqr itu seperti kita sedang menangis menyesali dosa atau kebodohan paling ceroboh kita. Lalu "mengurung" perasaan putus asa itu, bukan putus asa pada Tuhan, tapi pada dunia bahkan pada diri sendiri. Rasa tidakberdaya macam inilah yang akan menambah poin kita untuk mewujudkan rahmat dalam bentuk materi atau mahfudz.
Persoalannya, kesadaran al faqr tidak bisa dibuat-buat. Sebab jika dibuat-buat, atau diusahakan, maka jadinya adalah Zuhud. Bukan menjauhi dunia, tapi mengurung hati agar tidak bersandar pada apapun selain Tuhan. Tubuh tetap bekerja, akal tetap berpikir, tapi hati 'terkurung' hanya bersama Allah. Pelajaran berharga tentang ini ada pada kisah Nabi Yusuf saat di dalam sumur, Maryam saat di mihrab, dan Nabi Muhammad saat di gua Hira.
Awalnya, Nabi Yusuf terkurung di dalam sumur, Maryam mengurung diri di mihrab, dan Nabi Muhammad 'mengurung' diri di gua Hira. Tapi pada akhirnya, "kurungan" padat (sumur, mihrab, gua Hira) bertransisi menjadi 'kurungan hati'. Tubuh mereka kemana-mana, berjalan-jalan, tapi hati mereka Zuhud, terkurung bersama Allah. Dan inilah yang disebut rahmat dalam bentuk pontensinya, bukan wujud materi atau Mahfudz.
Az-Zukhruf ayat 32
اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗوَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
