"Cinta berjodoh dengan kerelaan. Dan ketaatan berjodoh dengan ketiadaan diri. "
Ternyata, rasa sakit yang terasa seperti lubang di dalam jiwa ini adalah luka yang aku buat sendiri, dan mendakwakan luka itu pada Tuhan. Aku sudah jauh meluncur dari _ground state_ cinta, terlebih lagi ketaatan.
Pertanyaan seorang teman lama di tahun-tahun yang lalu teringat lagi. "Apakah manusia mampu hidup tanpa harapan sama sekali?" bahkan, jika ini ditanyakan ke AI, kemungkinan AI akan menyangka kita adalah orang yang putus asa dan mengarah ke bunuh diri. Sebaliknya, pertanyaan itu justru tentang ketidakbersandaran manusia pada apa-apa lagi selain Tuhan.
Jadi, "Apakah bisa tanpa keinginan manusia bisa menjalani hidup?"
Orang-orang modern bahkan membanggakan luka dalam perjalanan mencapai apa yang diinginkan. Merelakan apapun, bahkan keluarga demi yang diinginkannya tercapai. Kita menyebut itu _effort_ atau passion, atau pain, dan sebagainya. Luka yang kita dapatkan selama mengejar yang kita inginkan. Tapi untukku sendiri, dari awal (bagiku, sekali lagi) mengejar keinginan saja sudah salah. Sebab, jika pun Tuhan memberikan apa yang kita inginkan (pasti Tuhan mengabulkan), jalan untuk cinta dan ketaatan semakin lenyap. Seperti halnya kita ingin mobil mewah misalnya, tapi saat mobil itu hilang atau bahkan harus direlakan untuk disumbangkan, kita pasti akan berat melepaskannya.
Lalu bagaimana?
Aku menamai ini sebagai perjuangan tanpa keinginan. Kerja keras sungguh-sungguh, tapi sama sekali tak memikirkan hasil. Ini berat bukan karena memang jarang ada yang melakukan. Tapi lebih dalam dari itu adalah bahkan sejak dari pikiran saja kita tidak terdikte keinginan dan harapan. Ini paradoksal. Tapi selama ini aku hidup dengan itu. Meski nampaknya, 2-3 tahun ke belakang aku mulai _nge-drift_ bergeser pelan-pelan dan terasa sudah jauh dari kondisi itu.
Kini, perasaan berat itu nampak sekali. Dan memang, apa yang tidak diungkap oleh akal, akan diungkap utuh oleh musibah, oleh bala'. Inilah yang menjadikanku saat ini benar-benar tergugah. Ternyata selama ini membangun fondasi keimanan, ilmu, bahkan jihad, itu masih atas dasar nafsu. Ketika apa yang sudah aku bangun selama ini runtuh oleh kondisi riil saat ini, dan aku nyaris mendakwa Tuhan, nafsu-nafsu itu nampak. Ternyata nafsu dalam kondisi yang paling dalam itu nyaris tak ada bedanya dengan diriku sendiri. Mengatasnamakan sabar, tawakal, ridho, ikhlas, cinta - dan memang nyaris tanpa preferensi (keinginan atau harapan apapun), ternyata itu nafsu. Diri nafsu yang selama ini kuat sabar, kuat tawakal, kuat ridho, kuat ikhlas dan mengatasnamakan cinta, sedangkan diam-diam ada gugatan mengapa Tuhan tak kunjung memberikan jalan.
Disiplin diri itu kuat ketika tidak ada guncangan (bala'), tapi ketertancapannya longgar ketika musibah harian datang. Dan tentang sabar, tawakal, dan teman-temannya itu, ternyata juga baru hiasan, meski nampak indah dalam narasi yang aku pahami.
Lalu sekarang apa?
Menguatkan ketertancapan disiplin itu dalam tekanan-tekanan harian. Nafsu tak bisa dihilangkan, tapi dengan mulai nampaknya gugatan-gugatan halus di kedalaman, pertarungan kini lebih fair.
Kamis, 23 Juli 2026
