"Migrasi Pikiran" dari Kepala ke Dada : Ketika Jantung Mengambil Alih Kembali Singgasana Sang Raja

Java Tivi
0


Sejak berabad-abad yang lalu, Al-Ghazali pernah melukiskan sebuah metafora yang begitu sederhana tetapi sesungguhnya memuat kedalaman antropologi spiritual manusia. Ia mengatakan bahwa dalam diri manusia ada kerajaan batin. Di kerajaan itu, qalb (jantung, kita salah tafsir sebagai hati) adalah raja, akal adalah perdana menteri, dan nafsu adalah budak. Selama raja memimpin, perdana menteri menimbang dengan bijak, dan budak tunduk pada aturan, maka kerajaan itu stabil, damai, dan sehat. Tetapi bila budak memberontak dan perdana menteri tunduk padanya, sedangkan raja dipinggirkan, maka seluruh kerajaan akan kacau, dan manusia kehilangan arah.

Metafora ini bukan sekadar bahasa moral keagamaan; ia sebenarnya menggambarkan arsitektur kesadaran manusia yang lebih dalam. Qalb dalam tradisi Al-Ghazali bukan sekadar daging yang berdetak di dada, tetapi pusat kesadaran maknawi—wilayah tempat manusia berjumpa dengan nilai, cahaya, makna, dan Tuhan. Akal adalah instrumen rasionalitas untuk menafsirkan realitas, sedangkan nafsu adalah tenaga instinktif yang mendorong manusia bergerak.

Selama berabad-abad, paradigma manusia modern terbalik: akal dipuja, nafsu diberi panggung, dan jantung—baik dalam makna spiritual maupun biologis—direduksi sekadar mesin pompa darah. Namun menariknya, sains justru sedang mendekatkan kita kembali kepada kebijaksanaan yang dulu diucapkan para ulama besar. Neurokardiologi modern menemukan bahwa jantung ternyata bukan sekadar mesin mekanis; ia memiliki jaringan neuron, sistem memori, dan pengaruh langsung terhadap otak serta emosi. Jantung bukan bawahan; ia adalah pusat komando biologis yang bernegosiasi langsung dengan kesadaran.

Dengan kata lain, Al-Ghazali menyebutnya “raja”, sains menyebutnya pusat regulasi kesadaran emosional dan keputusan eksistensial.

Ketika jantung bekerja selaras, ritmenya harmonis, dan sinyalnya stabil, otak berpikir lebih jernih, emosi lebih sehat, dan keputusan lebih matang. Tetapi ketika jantung kacau—oleh tekanan, dendam, kemarahan, keserakahan—maka struktur kesadaran pecah. Di sinilah metafora kerajaan Al-Ghazali tampak hidup lagi: ketika raja terguncang, perdana menteri akan panik, dan budak mengambil alih dengan kebrutalannya.

Manusia modern hidup lama dalam situasi ketika perdana menteri (akal) dipaksa menjadi raja, dan budak (nafsu) diberi otoritas ekonomi, politik, dan budaya. Kita memuja logika, tetapi kehilangan kebijaksanaan. Kita mengagungkan kecerdasan, tetapi kehilangan kelembutan. Kita mampu menaklukkan bumi, tetapi gagal menenangkan diri sendiri. Dunia maju secara teknologi, tetapi banyak jiwa yang hancur meluruh di dalam sunyi.

Maka “migrasi pikiran dari otak ke jantung” bukanlah romantisme spiritual; ia adalah kembali ke tatanan yang benar, kembali ke konstitusi batin yang sejak awal dirancang Tuhan. Di situlah metafora Al-Ghazali menemukan relevansinya: ketika jantung kembali mengambil singgasana, akal tidak kehilangan martabatnya—justru ia bekerja lebih benar, lebih manusiawi. Ia bukan lagi alat pembenaran nafsu, tetapi penasihat bijak bagi raja yang terang.

Nafsu tidak dimatikan, karena ia bukan musuh. Ia hanya perlu dikembalikan pada posisinya: sebagai energi hidup yang dikendalikan, bukan penguasa yang memerintah. Ia harus tunduk kepada kebijaksanaan jantung dan arahan akal. Dengan demikian, hidup tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh rasa takut, ambisi, dendam, dan haus pengakuan. Hidup menjadi perjalanan yang lebih tenang, lebih punya makna, dan lebih selaras dengan diri terdalam.

Pada akhirnya, ketika jantung kembali duduk di singgasana batinnya, manusia berhenti hidup hanya sebagai makhluk yang berpikir dan menginginkan. Ia mulai hidup sebagai makhluk yang mengerti, merasakan, mempercayai, dan berserah dengan kesadaran yang utuh. Itulah momen ketika kerajaan batin kembali tertata: raja memerintah, perdana menteri menimbang, dan budak bekerja sesuai tempatnya.

Dan mungkin di situlah letak kesehatan spiritual yang paling sejati: bukan hanya ketika luka terobati, bukan hanya ketika diri tersembuhkan, tetapi ketika seluruh kerajaan batin kembali hidup dalam tata yang benar—tenang, jernih, dan bermartabat.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)