Mana Temanmu?

Java Tivi
0



_Begitu banyak orang berilmu yang mengenal Allah dengan akalnya, tapi begitu sedikit yang mengenal-Nya dengan qolbunya_

‎
‎
‎Agak sedih ketika aku bertanya pada anak pertamaku, "Kenapa kamu nggak main di luar?"
‎
‎Dia jawab, "Nggak ada temennya,"
‎
‎Bukan benar-benar tidak ada teman, saudara-saudaranya, anak dari kakak perempuanku, mayoritas perempuan. Ada anak laki-laki, tapi masih 5 tahun, sedangkan anakku 9 tahun. Dia harus asyik dengan dirinya sendiri, dan tentu saja gawainya, agar tidak terganggu dengan godaan bermain di luar. Teman baginya, adalah seseorang yang seumuran, laki-laki, dan 'sefrekuensi'.
‎
‎Seakan aku melihat diriku sendiri. Ada satu tulisan di masa lampau yang aku beri judul : *Siapa temanmu?*
‎
‎Pertanyaan kiasan, untuk seorang teman yang mampu menampung pemikiran, berat beban, dan petualangan - liar - intelektual yang, jangankan disini, dulu di kampus pun tidak ada.
‎
‎Pikiranku melayang ke Nabi Ibrahim yang sampai diberi julukan 'Khalilullah', teman Allah. Betapa berat hidup beliau, sebab menjadi manusia yang "se-frekuensi" dengan Tuhan. Wajar, jika kita baca dari kisah hidup beliau penuh dengan dilema pedih : 'membuang' anak istrinya, menyembelih anak, atau saat muda yang harus melawan bapak dan followernya.
‎
‎Banyak yang mengenal Allah dengan akalnya : Allah maha pengasih, penyayang, dan sebagainya. Tapi sangat sedikit yang mengenal dengan qolbunya. Sebab, harganya terlalu 'mahal' mengenal Allah dengan qolbu kita. Pasti, tak mungkin seberat para nabi, tapi pasti lebih ruwet daripada hidup manusia pada umumnya. Separadoks itu memang cinta. Tidak mungkin seseorang mencintai tanpa mengenali. Cinta tanpa ilmu adalah cinta yang pura-pura. Tapi ternyata mengenal, punya ilmu, dengan akal, pada yang dicintai, itu juga kurang. Sebaliknya, mencintai dengan qolbu akan sangat berdarah-darah. Dan dalam banyak luka itu - pun, tidak bisa disebut pengorbanan. Sebab, cinta macam apa yang menyebut tiap luka sebagai korban? Cinta kok merasa jadi korban? Playing victim dong?
‎
‎Maka, kembali ke pertanyaan : siapa temanmu? Jika ada, resikonya hidupmu makin berat. Mau?
‎
‎Tegal, 14 Oktober 2026

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)